Tampilkan postingan dengan label Nasyah's Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasyah's Fiksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Agustus 2018

Rindu

Mungkin aku jatuh terlalu dalam padamu.

Pada setiap tingkahmu yang butuh tafsir.

Pada setiap tuturmu yang sembunyi dibalik diksi sarkas nan frontal.

Lalu sadar, bahwa jatuh selalu sakit.

Luka, berdarah, patah?

Yang kutahu; ia berbekas, menyisakan tumpukan rindu yang makin gebu.

Adakah kau sama?~



~alien~

Selasa, 04 Desember 2012

Cerpen - Elegi Senja



Dibawah naungan  sang senja, nampak seorang gadis duduk termenung di bawah pohon akasia yang rindang. Angannya menerawang ke masa tujuh tahun silam. Disini, ditempat ini terkubur jutaan kenangan masa kecilnya  bersama bayang-bayang seorang anak laki-laki yang tersenyum ramah. Sosok yang selama ini menghiasi bunga tidurnya, yang selalu memberinya alasan untuk tetap menunggu walau waktu terus bergulir.

“Ra, kamu masih disini? Sebentar lagi akan gelap! Sampai kapan kamu akan menunggu sesuatu yang tidak pasti akan datang?” suara seseorang menyadarkan Tiara dari lamunannya.

“Entahlah Ren, tapi hatiku tetap yakin bahwa Ozy akan datang! Ini sudah 7 tahun berlalu sejak dia pergi. Aku yakin bahwa Ozy akan menepati janjinya untuk datang menemuiku!”

Rendy mendesah panjang. Sulit rasanya untuk menyadarkan Tiara dari mimpi masa kecilnya. Bayangan Fauzi sepertinya terlalu berbekas dalam benak gadis cantik yang ada dihadapannya sekarang. Rendy sudah berusaha untuk membuat Tiara sejenak berpaling dari sosok sahabat masa kecilnya itu, tapi ternyata seorang Rendy yang setiap saat ada di dekatnya pun tidak mampu walau sekedar hanya menggantikan setengah posisi Fauzi di hati Tiara.

Tiara kembali hanyut dalam memori masa kecilnya. Tujuh tahun silam, waktu itu mereka masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Tiara dan Fauzi selalu terlihat bersama. Dimana ada Tiara, disampingnya pasti ada sosok Fauzi, begitupun sebaliknya. Keceriaan selalu menghiasi wajah cantik Tiara. Namun keceriaan itu tiba-tiba lenyap, menghilang seiring dengan kepergian Fauzi yang mendadak. Fauzi dan keluarganya harus pindah ke Paris lantaran ayahnya dipindahtugaskan ke sana. Fauzi pun tidak sempat berpamitan pada Tiara karena pada saat itu Tiara dan keluarganya sedang berlibur ke puncak. Hanya sepucuk surat yang ia titipkan pada satpam rumah Tiara. Dan kini, tujuh tahun setelah kepergian Fauzi, Tiara masih tetap menunggu. Ia percaya bahwa Fauzi akan kembali, seperti yang tertulis dalam suratnya.

“Ra, stop membuat diri kamu tersiksa! Ozy tidak akan tenang jika kamu tetap bersikap seperti ini! Kasihan Ozy! Kamu juga harus memikirkan dia Ra!”, Rendy dengan spontan membentak Tiara.

“Maksud kamu apa Ren? Kamu tahu apa tentang Ozy? Kamu bahkan tidak mengenal dia! Kamu hanya mendengar namanya dari cerita-ceritaku!”.

“Banyak hal yang tidak kamu ketahui di dunia ini Ra! Jadi stop merasa bahwa kamu adalah orang yang paling merana karena ditinggalkan oleh sahabatmu! Ada saatnya kamu akan mengetahui semuanya! Tapi tidak untuk sekarang!”, Rendy bergegas meninggalkan Tiara yang masih diam termangu merenungi kata-kata yang ia lontarkan barusan.

***

Seminggu setelah kejadian itu, baik Tiara maupun Rendy tidak saling menghubungi satu sama lain. Bahkan untuk saling menanyakan kabar pun tak pernah. Rendy sibuk dengan organisasi eksternal kampusnya, sedangkan Tiara masih sibuk berkutat dengan memorinya. Teman-teman mereka banyak yang heran dengan pemandangan baru yang tersuguhkan di depan mereka. Tiara dan Rendy yang nyaris tidak pernah terpisahkan, sudah seminggu ini tidak pernah lagi terlihat bersama. Hingga suatu hari, Tiara yang hendak masuk ke ruang perpustakaan tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.

“Kalau jalan lihat-lihat dong! Semua berkas saya jadi berantakan begini kan!”, orang yang ditabrak Tiara marah sambil berusaha mengumpulkan semua berkasnya yang berceceran tanpa memperhatikan  siapa yang menabraknya.

“Rendy! Maaf Ren, aku ga sengaja! Kamu baik-baik saja kan? Biar aku bantu membereskan berkasmu!” Tiara merasa  bersalah dan membantu Rendy mengumpulkan kertas yang berserakan di sekitarnya.

“Tidak perlu Ra, aku bisa sendiri! Terima kasih untuk niatmu membantu. Aku pergi dulu ya? Aku harus masuk kelas, takut terlambat.” Rendy tersenyum manis ke arah Tiara.

Sepeninggal Rendy, Tiara melihat sebuah buku tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dahi Tiara berkerut sembari memungut dan mengamati buku tersebut. Disampul depannya tertulis nama Rendy Prasetya. Tiara langsung menyadari bahwa itu adalah buku diary milik Rendy. Dia berniat memasukkan buku itu ke dalam tas miliknya, namun tiba-tiba sebuah kertas melayang terjatuh dari dalam buku tersebut.
Sepertinya itu adalah sebuah surat, terlihat dari bentuknya yang terlipat dan ada sepucuk amplop yang ikut terjatuh bersama dengan kertas tersebut. Ada rasa penasaran dalam benak Tiara. Dia hendak mengurungkan niatnya untuk membaca surat tersebut kalau saja dia tidak melihat nama pengirimnya. Tiara tersentak! Ada nama Fauzi Adriansyah tertera di amplop surat itu. Bukankah itu nama seseorang telah lama ia nantikan kehadirannya. Ingin rasanya Tiara membaca surat itu saat itu juga, tapi ia mengurungkan niatnya dan segera pulang ke rumah.

***

Setelah mandi dan berganti pakaian, Tiara segera mengunci pintu kamarnya. Ia tidak ingin diganggu oleh siapapun ketika membaca surat yang ia temukan di dalam diary milik Rendy.  Tiara menganga tidak percaya. Ternyata benar surat itu dari Ozy, sahabatnya yang selama ini ia nantikan kehadirannya.

Dear Tiara,
Hai ra, apa kabar kamu?
Tidak terasa sudah 5 tahun kita tak bersua.
Ozy kangen banget sama sama Ara.
Ozy cuma ingin memberi tahu Ara kalau seminggu lagi Ozy akan kembali ke Indonesia.
Dan orang pertama yang sangat ingin Ozy temui adalah Ara!
Kita bertemu di taman kenangan kita ya? Tanggal 17 Juni 2009 Tepat pukul 17.00 sore!
Sampai ketemu ya Ra!

-Fauzi-


17 Juni 2009? Bukankah itu 3 tahun yang lalu? Air mata  Tiara sudah tak dapat terbendung lagi! Tiara tidak habis pikir, mengapa surat yang ditujukan kepadanya ada di dalam diary milik Rendy? Apa yang sebenarnya terjadi? Tanda tanya itu terus berputar dalam benak Tiara hingga mengantarkannya menuju rasa kantuk.

***

Rumah itu terlihat lengang. Hanya sebuah motor sport berwarna hijau yang terlihat terparkir rapi di pelataran rumah luas dengan desain klasik itu. Tiara bergegas menuju taman belakang rumah itu. Dia tahu bahwa saat itu Rendy pasti sedang berada disana untuk bermain bersama kucing angora kesayangannya.

“Rendy! Apa maksud ini semua?” tanpa basa-basi Tiara langsung melemparkan surat itu ke wajah tampan Rendy.

“Ini.. ini bukan apa-apa Ra!” Rendy terlihat sangat terkejut dengan kedatangan Tiara.

“ kamu mau berkelit Ren? Apa bukti itu belum cukup? Aku butuh penjelasan dari kamu! Sekarang Ozy dimana? Kenapa kamu tidak pernah memberi tahu ku sebelumnya?”. Tiara terlihat berapi-api.

Wajah tampan Rendy masih tak mampu menutupi keterkejutannya. Lidahnya kelu, sulit untuk berkata. Rendy hanya beranjak dari tempatnya berdiri terpaku tadi, menuju kedalam rumah. Tidak lama kemudian dia muncul lagi. Tapi kali ini tidak dengan tangan kosong, sebuah koran yang nampak lusuh berada dalam genggamannya.

“Itu apa Ren? Aku butuh penjelasan tentang Ozy, bukan koran itu!”, Tiara tak mengerti maksud Rendy.

“Jawaban yang kamu inginkan ada di koran ini Ra! Kalau kamu ingin tahu tentang Ozy-mu itu, silahkan baca sendiri koran ini!”, kata Rendy sambil mengulurkan koran yang ada dalam genggamannya ke arah Tiara.

Sebuah judul pemberitaan terpampang dengan jelas dihadapan Tiara.

“PESAWAT AIR FRANCE DENGAN RUTE
PARIS-JAKARTA JATUH KE LAUT,
DIPASTIKAN SEMUA PENUMPANG TEWAS.”

Tiara shock! Ini bagaikan petir disiang bolong yang menyambarnya berulang-ulang.

“Tidak! Kamu tidak akan bilang kalau ini pesawatnya Ozy kan? Ozy masih hidup kan? Ozy pasti kembali kesini buat aku! Kamu jangan mencoba membodohiku Ren! Tidak akan bisa!” Tiara berteriak histeris.

“Tapi itu kenyataannya Ra! Ozy menitipkan surat itu padaku 3 tahun yang lalu, seminggu sebelum dia kembali ke Indonesia. Aku mencari alamat rumahmu sesuai dengan yang di berikan olehnya tapi ternyata kamu dan keluargamu telah pindah. Sampai akhirnya aku tak berhasil menyampaikan surat dari Ozy kepadamu tepat waktu! Hingga pesawat yang ditumpangi Ozy jatuh ke laut lepas, aku merasa punya hutang janji padanya. Aku terus mencarimu dan akhirnya berhasil! Tapi kemudian aku tak tega melihatmu yang selalu berharap dapat bertemu lagi dengan Ozy! Dan kemudian aku mengambil keputusan untuk tetap membiarkanmu dengan kenangan-kenangan indahmu dengannya, dan  aku akan berusaha membuatmu perlahan dapat membuka mata dan tidak terlalu berharap akan kehadiran Ozy! Dan bila saat itu tiba, aku akan segera memberitahu mu tentang kenyataan sebenarnya. Aku hanya menunggumu untuk siap mendengarnya  Tiara! Hanya itu!”, Rendy menatap tajam mata Tiara sambil mengguncangkan tubuh gadis itu.

“Bohong! Aku tak percaya padamu Rendy! Terlalu banyak kebohongan dibalik persahabatan kita selama ini! Lebih baik aku pergi menyusul Ozy! Dia pasti kesepian disana!”, Tiara makin histeris, tangisannya meraung-raung.

“Stop berbicara tak jelas seperti itu Tiara! Di dunia ini masih banyak yang menyayangimu sepenuh hati! Ayah, ibu dan kakakmu akan menderita kalau kamu tega meninggalkan mereka hanya karena Ozy!”, Rendy membentak Tiara.

“Apa peduli kamu? Kamu hanya orang asing yang hadir diantara aku dan Ozy! Kamu orang asing yang membuatku tak mengetahui kepergian sahabatku yang ternyata sudah lama berselang! Kamu orang terjahat yang pernah aku temui  Ren! Aku benci padamu!”, Tiara sudah tidak dapat lagi mengontrol kata-katanya.

Plakk!! Refleks tangan Rendy bergerak cepak ke arah pipi Tiara. Pipi Tiara perih dan memerah. Betul-betul sakit rasanya, hingga membuat Tiara mengeluarkan air mata. Tapi Tiara lebih merasakan rasa sakit itu dibagian kiri dadanya. Jauh kedalam dirinya. Bukan dihatinya. Bukan pada organnya, tetapi pada perasaannya. Perasaannya tersakiti begitu dalam. Tak pernah ia menyangka sahabatnya berlaku  seperti ini padanya. Tak sedikit pun.

***

Minggu yang mendung. Semendung wajah Tiara yang sedari pagi tak menampakkan seulas  senyum sedikit pun. Bahkan matanya terlihat sembab. Semua orang yang melihat pasti langsung menyadari bahwa Tiara baru saja menguras habis air matanya. Masih teringat jelas bagaimana Rendy menampar wajahnya kemarin. Rasa pedihnya pun masih terasa.

Di halaman terdengar raungan sepeda motor. Tiara sangat mengenal deru motor itu! Ya, tidak salah lagi, itu  bunyi motor milik Rendy. Tiara bergegas menuju kamarnya untuk menghindari sahabatnya itu. Namun, sebelum dia sampai ditangga, Rendy sudah berdiri di pintu pembatas ruangan yang tak jauh dari tempat Tiara berdiri.

“Kamu mau kemana Ra? Mau menghindari aku? Sahabatmu ini datang dengan niat baik ingin meminta maaf padamu untuk kesalahan yang sebenarnya tak pernah terlintas dalam benakku!”, Rendy menarik lengan Tiara.

“Sahabat? Kamu dengan mudahnya menyebut kata sahabat? Sahabat macam apa yang tega menyimpan rahasia besar dari sahabatnya sendiri  selama bertahun-tahun? Kamu bahkan tidak pantas untuk kusebut sahabat! Lebih baik kamu pergi dari sini, pergi dari hidupku! Anggap saja kita tak pernah kenal sebelumnya!”.

“Itukah yang kamu inginkan Ra? Baiklah kalau itu maumu! Tapi jangan ada sedikitpun penyesalan jika suatu saat aku benar-benar pergi dan tidak akan kembali!”. Rendy membentak Tiara lalu bergegas meninggalkan rumah gadis itu dengan kecepatan tinggi.

Tiara terpekur. Dia tak tahu mengapa kata-kata itu terlontar dengan mudah dari bibirnya? Sungguh, Tiara dapat bersumpah demi apapun bahwa kata-kata itu tidaklah mewakili isi hatinya. Satu jam sudah dia menangis di tempat yang sama. Belum terbersit di benaknya untuk meninggalkan tempat tersebut. Tidak lama berselang, terdengar deringan telepon dari ruang keluarga. Tiara melangkah enggan.

“Assalamu ‘alaikum, disini kediaman keluarga Pradipta. Ada yang bisa dibantu?”, Tiara mencoba ramah.

“Tiara, ini Rangga kakaknya Rendy. Kakak cuma mau memberitahu kamu bahwa Rendy mengalami kecelakaan setelah kembali dari rumah kamu. Kamu yang tabah ya? Rendy sudah meninggalkan kita semua”, suara di seberang sana terdengar sedikit terisak.

Tiara kaget! Tidak menyangka semua kata-kata yang terlontar tadi menjadi kenyataan. Tak berselang lama kemudian, Tiara lalu jatuh pingsan.

***

Ditempat yang sama dengan sore-sore sebelumnya. Tiara kembali terlihat dibawah rindangnya pohon akasia. Merenungi kepergian dua orang terpenting di hidupnya. Kepergian yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Kepergian yang mungkin akan terus menghadirkan elegi di senja-senja selanjutnya.


-SELESAI-

Kamis, 08 Desember 2011

Ku Jaga First Love-ku Untukmu (part 2)


“ tok…tokk…tok…!!!” pintu kamar vhaddya ada yang mengetuk.
“vhaddy… boleh masuk gak???”
“ masuk aja vhe, nggak dikunci kok!!!”
“kakak kembarku vhaddy yang baik hati… lagi sibuk ya…????!”
“ hayo… ada apa??! Pasti ada maunya deh kalo udah mulai ngerayu…!”
“curhat dong…? Plish…” kata vhellya dengan nada merayu.
“tentang apa??? Cowok ya…?” goda vhaddya.
“he…eh!”
“ vha… menurut loe, gue cantik gak sih???!”
“ gimana ya…, kalo gue bilang gak cantik… gue juga ga cantik dong??! Kita kan kembar identik! Ehm… kalo gitu loe cantik deh, biar gue juga cantik…”
“ huuh maunya…???!”
“iya doooong”
Kira kira seperti itulah keceriaan kedua saudara kembar ini.
***
“vhellya…!”
Vhelly mendengar ada yang memanggil namanya ketika ia sedang berjalan di koridor sekolah.
“ryo,,,!!! Tumben manggil, ada apa yah???!”
“gak boleh ya??! Temenin gue kekantin yuuk… gue laper nih… anak2 lagi sibuk sendiri jadi kesepian deh…?!”
“ yuk… kebetulan gue juga mau kesana! Tapi loe yang traktir ya???!” kata vhelly dengan wajah dibuat sedikit memelas. Melihat raut wajah vhelly, ryo hanya tersenyum simpul.
“ok dech…”

***

“ vhe,gue mau curhat nich…? Ada waktu…?” tiba-tiba shelly memecah keheningan.
“ emangnya mau curhat tentang apa sih…??!” goda vhellya.
“iya nich…, kok pake rahasia-rahasiaan sgala?? Kan bisa curhat ma gue juga???!” timpal sthevy.
“sebenernya….. sebenernya…”
“sebenarnya apaan??? Kita kan jadi bingung! Iya gak vhe???!”
“yupz, betul banget tuh…”
“ehm… gue lagi naksir sama seseorang…!!!”
“haaah…. Siapa????! Cerita dong…. Penasaran nih……!”
“ farrel……”
“farrel anak ipa3 itu??!, yang konon katanya cowok terkeren kedua setelah Ryo??!”
“iya, justru karena itu, gue takut banget kalo sampe ‘ntar gue patah hati. Soalnya fans nya do’i kan buanyak buanget!!!”
“ tenang aja, miss evhelyn chellya Putri Pragiwaksono dan aunt Sthevanie keyla rafflesia arnoldy akan selalu siap membantu!!!” celetuk vhellya.
“kok loe miss gue aunt sich??? Emangnya gue udah tua??! Udah gitu nama papi gue kan Raffles, bukan rafflesia arnoldy, emangnya papi gue bunga bangkai apa??!” protes sthevy.
“ ya udah… jangan ngambek gitu dong! Ntar malem gue mau dinner bareng Ryo!”
“haaaah… kok bisa???! Kapan dia ngajak loe??? Trus bareng siapa aja??? tempatnya dimana???” shelly melancarkan pertanyaan beruntunnya.
“ satu satu dong shee, gue kan susah jawabnya!”
“iya dech sorry! Gue terlalu bersemangat! Jawab dulu dong!!!”
“dia ngajak gue tadi siang pas lagi makan dikantin, katanya sich ada hal penting yang yang mau dibicarain, ‘n kita perginya berdua!”
“ berdua…??????? Yakin loe???!”
“katanya sih gitu!!!”
“ percaya deh ma gue, ntar malem dia pasti nembak loe!!!” celetuk sthevy.
“apa-apan sih??? Kita kan cuma dinner, apa specialnya coba???!”
“ hello…. Yang special itu, yang ngajakin loe itu si Ryo! Cowok terkeren dan terpopuler di sekolah! Semua cewek tuh klepek-klepek ama dia.!!!”
***
“hai yo… udah lama???” tanya vhellya ketika ia sampai di valentino 793 café, tempat janjiannya dengan Ryo.
“blom lama kok!” jawab ryo sambil memperhatikan wajah vhellya dengan dalam.
“kok ngeliatin gue gitu banget sih???! Ada yang aneh ma baju gue??? Dandanan gue mungkin???!” vhellya kikuk sendiri ketika Ryo menatapnya.
“ngga kok, ngga ada yang aneh! Justru loe keliatan cantik banget!!!”
Aduh gimana nih…. Kenapa gue jadi deg-degan ga karuan gini ya…? Guman vhellya dalam hati.
“ yo, katanya mau ngomong penting! Emangnya mau ngomong apa??!” tiba-tiba vhellya bertanya.
Ryo yang sedang minum menjadi tersedak.
“soal itu ya???? Ehm… gimana ya???! Sebelumnya gue mau nanya dulu, kalo kita jalan gini, ada yang marah gak???!” ryo balas bertanya dengan gugup.
“emangnya siapa yang mau marah??!”
“pacar mungkin?????!”
“gue jomblo lagi… jadi gak bakalan ada yang marah! Kecuali bokap gue…., dia pasti ngamuk kalo gue pulang kemalaman”
“sama dong,,,,!”
“so,,, ga penting lagi kita jomblo apa ga!!!, emang kalo punya pacar ga boleh jalan bareng apa???!”
“bukannya ga boleh,,, tapi gimana pun juga kan itu ga etis….!”
“iya dech,,, gue gak bakalan bisa nandingin loe kalo soal berdebat”

***

Sejak makan malam di Valentino ‘793 café kemarin malam, vhellya dan Ryo semakin akrab. Setiap waktu istirahat mereka pasti terlihat berdua. Entah itu maKan bareng dikantin, baca buku di perpus, bahkan saat Ryo latihan basket pun Vhellya selalu menemani. Semua murid cewek SMA Yadika Tunggal pun tidak mempermasalahkan kedekatan mereka. Padahal, biasanya setiap ada cewek yang mencoba mendekati Ryo, pasti langsung diberi ultimatum untuk menjauhi Ryo. Tapi kali ini???????!!!!! Tak satupun siswa cewek yang berani memberi ultimatum pada Vhellya. Mungkin mereka merasa bahwa vhellya dan Ryo memang pasangan yang serasi. Ryo adalah siswa yang sangat tampan, populer, dan berwibawa, apalagi ditambah dengan prestasi non-akademiknya dibidang olahraga, khususnya bola basket. Sedangkan Vhellya??? Selain ia adalah seorang ketua osis, cantik, anggun dan dia juga mempunyai prestasi yang sangat membanggakan dibidang  akademik. Dia sering mewakili sekolah untuk mengikuti lomba debat bahasa inggris, dan ia sempat lolos hingga ketingkat provinsi.

***
“vha,,, lagi sibuk ga???!” tiba-tiba vhellya muncul didepan pintu kamar vhaddya.
“Elo vhe!!! Gue kirain siapa!!! Masuk aja kali…. Kayak loe siapa aja!!!” kata vhaddya.
“tadi gue liat loe lagi nulis, makanya gue kirain loe lagi ga bisa diganggu…. Nulis apaan sih?? Diary yah??” Jawab vhellya.
“gue udah selesai kok nulisnya…. Mau tau aja... Emangnya ada apa? Kok kayaknya penting banget  sih??? Hayo… soal cowok ya….????! Ngaku ga!!!” ujar Vhaddya
“sok tau banget sih???! Emang tau dari mana??? Kayaknya gue blom crita deh???” vhellya mencoba mencari tahu.
“dasar o’on,,,, emang sejak kapan sih lo amnesia???? Perasaan blom 2 minggu deh lo crita kalo lagi deket ama cowok!!!!”vhaddya membela diri.
“emang iya???????,,,,,,,,,,!!!!!!!!!!!!!”
“lo pura-pura amnesia ato amnesia beneran sih??? Jelas-jelas lo yang crita ma gue” vhaddya merasa menang.
“sori deh kalo gue jadi lupa,,, maklum orang sibuk!!! Hehehe…..”
“nyantai aja lagi….,, emangnya kamu mau curhat tentang apa???? Udah jadian yah????”
“ih…. lo makin sok tahu deh,,,, mana mau dia ma cewek kayak gue????” vhellya merendahkan diri.
“gue yakin kok kalo dia pasti mau……. Lo kan adik kembarku yang paling cantik!!! Tapi, tentunya di bawah gue!!!!”
“huuh…. Maunya….!!!!! Lama-lama lo makin narsis sendiri!!!” ujar vhellya sewot.
“ye… kok sewot sih???? Urusan gue dong mau narsis apa kagak!!!!” sahut Vhaddya tak kalah sengit.
Mendengar jawaban vhaddya, vhellya langsung melengos pergi. Entah mengapa  tanpa sepengetahuan Vhelly, Vhaddy menitikkan airmata. Tak ada yang tahu makna dari air mata itu.
***

Selasa, 06 Desember 2011

Ku Jaga First Love-ku Untukmu (part 1)

kring……kring……kring!
Jam weker di meja belajar kamar Vhellya sontak membangunkannya dari mimpinya yang teramat sangat indah!
Astaga…… setengah tujuh pagi!!!!! gue harus segera berangkat kesekolah. Jika terlambat pasti Bu Nunik akan marah besar dan ngehukum gue di tiang bendera! Betapa malunya gue kalau Ryo ngeliat gue dihukum!
 What’z?????! Ryo???!
Sejak kapan gue mulai mikirin dia?
 Oh my god, jangan bilang kalo gue???!
“Vhe…., kamu udah bangun blom??? Sarapan yuuk!” Suara mami menyadarkan vhellya dari lamunan!
“iya mi, vhelly bentar lagi turun” sahut Vhellya lalu bergegas kekamar mandi yang ada dikamarnya. 15 menit kemudian, Vhellya telah duduk dengan manis di meja makan.
“kamu kenapa sih vhe, tumben banget kamu bangun terlambat? Kamu kan harus sekolah!” ujar mami sambil menyiapkan roti untuknya.
“biasa mi, semalam vhelly ngerjain tugas makalah sampe jam 2”
“Ya udah, tapi buruan makannya! Ntar telat lo! Kamu bareng papi aja kesekolah, kan searah!”
“ya… mami! Vhelly kan udah gede mi! Vhelly bisa sendiri kok!”
“pilih mana sama papi ‘n gak telat atau sendiri dan kamu pasti telat?”
“Ya udah deh Vhelly ngalah aja!”
“Vhaddy  udah berangkat ya mi?”
“iya, baru aja!!!” sahut mami sambil berlalu kearah pantry.

***

Bruk!!!!!
Ada seseorang yang menabrak Vhellya ketika ia berjalan menuju kantin.
“punya mata gak sih???? Liat-liat dong!” kata vhellya sambil membersihkan bajunya dari debu.
“sorry, gue gak sengaja!,  soalnya gue buru-buru mau ke toilet”
oh my god, suara yang teramat sangat Vhellya kenal, suara yang tiap malam ada di mimpinya, suara yang mampu menggetarkan jiwanya!!!!!
Yupz, siapa lagi kalau bukan suara Ryo, vhellya kaget setengah mati!!!
“ Ryo??? “
“vhellya?”
“sekali lagi sorry, gue bener-bener gak sengaja”
“ga papi kok! Lagian gue juga meleng tadi!”
“gue ketoilet dulu ya? Kebelet nih!!!!”
“ok, gue juga mau kekantin”
***

“Apa??? Loe tabrakan ama Ryo???!” suara Shelly bagaikan petir disiang bolong, apalagi ditambah suara Sthevy. Kedua sahabat vhellya ini terkejut ketika mendengarkan penuturan vhellya, saking kagetnya mereka lupa bahwa mereka sedang berada dalam kelas dan pak Togar, guru yang paling killer sedang menjelaskan.
“ evhelyn chellya, shelomeyta, dan Shtevanie! Sedang apa kalian??! Kalau tidak mau mengikuti pelajaran saya silahkan keluar!!!!”
“ maaf pak, kami gak sengaja soalnya..... soalnya….soalnya!!!!” sthevy dengan gugup mencoba menjawab pertanyaan guru paling killer seantero sekolah.
“soalnya apa….???!, jangan mengada-ada kalian!”
“ehm….ehm….tadi ada….ada….. ada kecoa pak!!!!, sebagai cewe’ kan kami takut pak ama kecoa” shelly mencoba membantu sthevy.
Mendengar alasan shelly, vhellya hanya tersenyum.
“ ya sudah, kali ini bapak maafkan! Tapi sekali lagi kalian membuat keributan, jangan harap nilai kalian akan aman!!!!”
“ huh… dasar guru killer, gak bisa apa gak ngancem pake nilai????!” gumam shelly.

***

“mami,,, vhelly pulang…!!!!”
“vhelly, kalo masuk rumah beri salam dulu dong sayang!!! Jangan kayak kambing ah!!!”
“ ih mami, jahat amat sih??? Masak anak sendiri disamain ama kambing??? Ngomong-ngomong vhaddya mana mi???!”
“vhaddy ada tuh dikamarnya!!!”
“ya udah deh… vhelly kesana dulu ya mi!!! Mau curhat nich???!”
“ kan bisa curhat ma mami!!!”
“ya… mami, mana seru! Enakan juga curhat ama yang seumuran!!!”
“ya udah… pergi sana!!!”
***