Mungkin aku jatuh terlalu dalam padamu.
Pada setiap tingkahmu yang butuh tafsir.
Pada setiap tuturmu yang sembunyi dibalik diksi sarkas nan frontal.
Lalu sadar, bahwa jatuh selalu sakit.
Luka, berdarah, patah?
Yang kutahu; ia berbekas, menyisakan tumpukan rindu yang makin gebu.
Adakah kau sama?~
~alien~
♥ Nanii Syahriani Nas ♥ Follow me on twitter and instagram ~> @nasyahnas contact me: nanisyahriani@gmail.com
Rabu, 15 Agustus 2018
Senin, 19 Maret 2018
Kita
Kau biru langit yang cerah di kalbu
Enggan kulepas dengan pandang
Segenap rasa ku puja-puja dirimu
Dirimu juga badai yang kusanjung segenap rindu
Sekedipan mendung menghadirkan derai
Guntur menumbangkan pohon menerpa
Bunga-bunga mekar hatiku dan hatimu
Patah, berserakan di telapak kaki surga
Kau dan kau adalah janji
Waktu lekang, angan menghitung kekosongan
Hanya setetes nila yang tersisa,
Bungkam sebaik kata menghapus luka
Kita adalah rahasia terdalam
Kau adalah waktu yang gundah
Aku adalah penantian yang kecewa
Kembali abdi menjadi putih.
Pinrang, 12 Maret 2018
Hidayat Muh. Natsir
Enggan kulepas dengan pandang
Segenap rasa ku puja-puja dirimu
Dirimu juga badai yang kusanjung segenap rindu
Sekedipan mendung menghadirkan derai
Guntur menumbangkan pohon menerpa
Bunga-bunga mekar hatiku dan hatimu
Patah, berserakan di telapak kaki surga
Kau dan kau adalah janji
Waktu lekang, angan menghitung kekosongan
Hanya setetes nila yang tersisa,
Bungkam sebaik kata menghapus luka
Kita adalah rahasia terdalam
Kau adalah waktu yang gundah
Aku adalah penantian yang kecewa
Kembali abdi menjadi putih.
Pinrang, 12 Maret 2018
Hidayat Muh. Natsir
Langganan:
Komentar (Atom)