Selasa, 29 Desember 2015

Untitled

Enyahkan sakit yang jadi belenggu
Enyahkan rasa yang mengendap di kalbu
Enyahkan asa yang sempat jadi tuju
Enyahkan dirimu dari relung jiwaku

Aku pernah menaruh percaya pada angan kita
Lalu jatuh; terpecah dan tak lagi sama
Aku pernah terlalu mencinta
Lalu kemudian jatuh terluka

Salahkah aku yang terlalu cinta?
Salahkah aku yang mendamba cinta?
Salahkah aku yang merajut angan semata?
Ataukah memang dirimulah yang tak peka


Ajarkanku lupa
Demi nyaman yang kau damba
Bantu aku ikhlas
Karena rasaku tak lagi berbalas!


Makassar, 29 Desember 2015


Kamis, 17 Desember 2015

teruntuk kamu, HMN

Pergilah, jika ikatan itu mulai rapuh
Pergilah, jika ada ikatan baru yang menanti dengan sejuta warna indah disetiap temalinya

Tinggalkan, bila kau rasa itu lantas
Tinggalkan, jika kau merasa ada yang lebih pantas
Aku bukan apa-apa; pun juga bukan siapa-siapa yang berhak menahanmu

Izinkanku untuk sehari saja mengenangmu sebagai seorang yang pernah singgah; bahkan bertahta
Izinkanku menilik kembali segala kisah dan pengharapan yang harus kuhempas keras; sekeras niatmu untuk menjauh

Terimakasih untuk pelajarannya;
Bahwa tentang cinta dan hubungan, tidak akan bisa berhasil jika hanya satu sisi yang berusaha mengikat temali, sedang sisi yang lain berusaha untuk melepas; bahkan memutus, lalu membuang temali itu di tempat terendah; tempat sampah, bahkan jurang?

Kita pernah bersama,
tertawa untuk hal yang tak perlu untuk ditertawakan
Terlena untuk semua asa yang tak terarah
Kecewa untuk hal yang tak perlu dijadikan beban

Lalu sekarang aku disini; menguatkan hati untuk hari esok
Tak ada penyesalan untuk apa yang terjadi, toh wajahmu masih akan kulihat; pun suaramu pastilah masih akan menggema
Hanya saja, caramu mengakhiri ini yang membuatku merasa tak berharga.

Bantu aku bersikap biasa,
Bantu aku mengeringkan luka,
Bantu aku lebih dewasa,
Meski caramu menjauh sama sekali tak dewasa

Aku menaruh harap pada persahabatan dan persaudaraan yang sempat kau tawarkan,
Tapi kemudian menjadi lebih sakit ketika tawaran itupun hanya ilusi.

Maafkan atas semua hal yang selama ini mungkin tak kau sukai; tapi itulah cerminan ketulusanku.

aku hanya ingin menagih janji persaudaraanmu, itu saja.
Meski kuyakin, itu takkan bisa kau tepati.

Bila kelak nanti kau butuh sesuatu, jangan sungkan menghubungiku.

Aku tetap disini; berdiri sebagai sahabat, saudara, atau apapun kau ingin menyebutnya :D

Palopo, 17 Desember 2015



Selasa, 27 Oktober 2015

untitled. (Yaa'!_)

Maafkan aku yang kini mulai terjatuh.
Bukan, bukan pada rupa! Pun pada sikapmu..
Hanya saja aku jatuh terlalu dalam pada goresan diksi mu..

Diksi mu mengantrkan sejuta rasa yang entah mengapa tak dapat ku definisikan..
Lucu? Entah! Aneh? Memang iya!
Bahkan kata cinta yang menurut mereka adalah ungkapan rasa tertinggi pun tak sanggup memberiku gambaran rasa yang muncul karena diksimu..

Kau boleh terbahak! Karena akupun sebenarnya iya!
Tapi tolong, setelah itu izinkan aku kembali hanyut dan tenggelam dalam diksi mu yang candu..