Kau biru langit yang cerah di kalbu
Enggan kulepas dengan pandang
Segenap rasa ku puja-puja dirimu
Dirimu juga badai yang kusanjung segenap rindu
Sekedipan mendung menghadirkan derai
Guntur menumbangkan pohon menerpa
Bunga-bunga mekar hatiku dan hatimu
Patah, berserakan di telapak kaki surga
Kau dan kau adalah janji
Waktu lekang, angan menghitung kekosongan
Hanya setetes nila yang tersisa,
Bungkam sebaik kata menghapus luka
Kita adalah rahasia terdalam
Kau adalah waktu yang gundah
Aku adalah penantian yang kecewa
Kembali abdi menjadi putih.
Pinrang, 12 Maret 2018
Hidayat Muh. Natsir